Situ Gintung Dalam Puisi

2 04 2009

Abdullah G.Sugiyarto

Tujuh puluh sembilan tahun silam…
Engkau diciptakan oleh penguasamu
Untuk mensejahterakan, lewat airmu
kini……
Engaku telah rusak,… wajah ayumu nan sirna
engkau dijajah, dipaksa untuk muram
airmatamu tak kuasa kau bendung
murkamu kau tumpahkan pada orang yang tak berdosa

Situ Gintung…., taukah kamu….
kau marah pada orang yang salah
kau murka pada orang yang tak berdosa
walaupun aku tau… itu hanya peringatanmu
kemurkaan dan keangkaraan manusia,

Situ Gintung, aku tau kau murka
karena Tuan-tuanmu hanya memikirkan kampanye
tuan-tuanmu hanya memikirkan kursi-kursi yang empuk
hingga tak memperhatikanmu

Situ Gintung… pikirkan tindakanmu itu
sawah ladang yang kau airi telah tumbuh menjadi gedung nan tinggi
kini… kau luluh lantakkan dengan murkamu
puaskan dirimu situ gintung……

sekarang kau manja…. kau senyum-senyum, kau suka, kau puas
setiap umat di seluruh dunia memperhatikanmu
melirikmu, menyapamu, memanjakanmu
Bahkan Presiden dan para mentrinya menyambangimu

Semua orang ingin menengokmu, kecuali aku
karena aku tau, kau hanya SITU GINTUNG sebuah bendungan
yang dibuat oleh tangan-tangan manusia
dan wajar kalau dirusak pula oleh tangan-tangan manusia

Cuma menyesal Tung Gintung….
kenapa orang-orang tak berdosa menjadi korbanmu…




Situ Gintung

2 04 2009

Sebagaimana pada berbagai malapetaka lainnya, tragedi jebolnya tanggul Situ Gintung beberapa hari yang lalu mendapat perhatian yang besar dari masyarakat. Apalagi, perhatian terhadap yang aneh-aneh. Perhatiannya bisa melebihi perhatian terhadap penderitaan para korban. Ya, terkadang “perhatian” masyarakat itu sendiri terlihat aneh juga. Apa sajakah keanehan yang terkait dengan tragedi Situ Gintung ini? Berikut ini informasi-informasi paling aneh yang dapat aku himpun sejauh ini.

1. Sejak 2 tahun ini masyarakat sekitar tanggul sudah khawatir, tetapi kekhawatiran itu kurang mendapat respon dari Pemerintah. Padahal pada Nopember 2008 lalu tanggul Situ Gintung pernah jebol walau belum parah. Anehnya, Pemerintah belum berbuat secukupnya untuk mengatasinya. Bahkan early warning system (sistem peringatan dini) pun belum dibuat.

2. Dikabarkan, “Detik-detik jebolnya tanggul Situ Gintung di Tangerang, Banten, berhasil direkam”. Perhatikan! Merekam peristiwa yang menyedihkan ini dipandang sebagai prestasi alias kesuksesan alias keberhasilan. Aneh, ‘kan? Seandainya “jebolnya tanggul Situ Gitung berhasil dicegah”, bukankah ini yang lebih layak kita pandang sebagai keberhasilan? Mengapa tidak kita katakan saja, “Detik-detik jebolnya tanggul Situ Gintung di Tangerang, Banten, telah direkam”?

3. Situ Gintung merupakan lokasi wisata. Anehnya, “pengunjung” justru membludak setelah tanggul itu rusak total dan tidak indah lagi. Ternyata, Lokasi Jebolnya Tanggul Situ Gintung Jadi Tontonan. Apakah tempat-tempat wisata kita perlu dirusak total supaya pengunjungnya ramai?

4. Pesan-pesan Politik di Situ Gintung. Ini dia beritanya:

“Bagaimana, apa sudah ada wartawan di lokasi? Kalau sudah, sembako kita bagikan saja,” ujar seorang caleg parpol berbicara di telepon seluler.

Setelah menutup telepon, caleg itu kemudian bergegas ke lokasi bencana banjir Situ Gintung dengan dibantu beberapa kader partainya.

Pada masa kampanye seperti ini kader dan partai politik sepertinya tidak mau kehilangan momen tebar pesona, bahkan di tempat bencana sekalipun.

Dengan dalih memberi bantuan untuk korban tragedi Situ Gintung, sejumlah caleg partai politik mau repot-repot memberi langsung bantuan ke keluarga korban bencana. Tidak hanya itu, mereka juga mendirikan posko bantuan lengkap dengan atribut partai dan nama caleg bersangkutan.

Para caleg parpol tampaknya sudah siap dengan situasi seperti ini. Mereka datang bak pahlawan yang siap menanggung bersama kesusahan orang lain.

Mereka tidak hanya sigap mendatangi korban, tetapi juga cepat mengurusi hal-hal yang kecil. Tidak butuh waktu yang lama, spanduk besar bertulisan ”Posko Bantuan Bencana Banjir Situ Gintung, Caleg Nomor …” sudah terpampang di depan posko.

5. Ikan Patin seberat kurang lebih 45 kg yang ditemukan di dekat tanggul Situ Gintung menjadi primadona dadakan. Ikan raksasa penghuni Situ Gintung itu mungkin akan dimasak dan disantap bersama-sama. Begitulah beritanya. Kemudian, seorang pembaca berkomentar: “itu sebenernya Tim SAR atau Nelayan sih? kok malah pada cari ikan semua… tim SAR yang aneh..

6. Subhanallah “Masjid Utuh berdiri di bencana Jebol tanggul Situ Gintung“. Ini memang bisa dipandang aneh. Namun lebih aneh lagi kalau kejadian ini dipandang sebagai mukjizat dari Tuhan bagi umat Islam. Jika utuhnya itu dianggap lantaran kesucian masjid itu, maka bukankah ada bangunan lain “yang lebih suci” daripada masjid tersebut namun beberapa kali mengalami kerusakan lantaran banjir? (Yang aku maksud dengan “yang lebih suci” ini adalah Kakbah. Lihat “Sejarah Rekonstruksi Kakbah“.)

7. Menurut PosKota, tragedi Situ Gintung ini terjadi karena “Nyi Mas Melati Minta Tumbal“. Ini dia beritanya:

Di balik tragedi Situ Gintung yang menewaskan puluhan orang, banyak cerita misteri yang mengiringi danau seluas 21 Ha tersebut. Seminggu sebelum tanggul jebol, ada informasi kalau sang penunggu, Nyi Mas Melati menampakkan diri dengan berpakaian serba putih di tengah Situ Gintung, Cirendeu, Ciputat.

Kejadian ini termasuk langka dan jarang terjadi terlebih setelah adanya ‘Pulau Bergeser’ di Situ Gintung tahun 1986. Saat itu, menurut Abah Nur, 76, tokoh masyarakat yang yang tinggal sejak tahun 1965, ada cerita munculnya ular besar yang berdiameter sebatang pohon kelapa.

“Setelah munculnya ular raksasa di tengah situ, tiba-tiba timbul gundukan tanah atau yang disebut sebagai pulau kecil di dalam Situ Gintung yang bergeser ke tengah-tengah setu. “Pulau itu terlihat saat air setu menyusut atau kering. Tapi kalau meluap tak terlihat sama sekali,” kata Abah Nur, Jumat (27/3).

Aroma mistik tersebut kembali muncul seminggu lalu, saat sejumlah warga yang sedang memancing sekitar Pk. 18:30 melihat munculnya sinar terang di tengah situ. Sinar itu menggambarkan wanita berparas cantik yang lebih dikenal warga sekitar sebagai Nyi Mas Melati, sang penunggu situ yang dibangun pada tahun 1933 oleh Belanda.

Anehnya, kalau memang firasat/ramalan seperti itu sudah ada sebelumnya, mengapa baru disebarluaskan setelah terjadi tragedi? Mengapa itu tidak disebarluaskan sebelumnya supaya tidak ada korban? (Selain itu, mengapa hanya firasat/ramalan yang “benar” saja yang diberitakan? Mengapa firasat/ramalan keliru tidak diberitakan?)

Situ_Gintung




“Tokoh IPTEK”

25 03 2009

Paul Ehrlich – Penemu Kemoterapi. 

Paul Ehrlich adalah seorang ahli bakteriologi berkebangsaan Jerman. Ia disebut sebagai : “Bapak Imunologi, Hematologi, dan Kemoterapi”. Ehrlich kecil dilahirkan di Strehlen, Silesia (Strzelin, Polandia) pada 14 Maret 1854. 
Prestasinya di sekolah dan universitas tidak menonjol bahkan tergolong rendah, namun ia orang yang gigih. Dengan bersusah-payah dan berpindah-pindah kuliah di Universitas Breslau, Strasbourg, Freiburg dan Leipzig, akhirnya ia berhasil meraih gelar Doktor pada usia 24 tahun dengan tesis bertajuk “Sumbangan untuk Teori dan Praktek Mewarnai Jaringan”. Prestasinya yang jelek bukan karena ia bodoh, tetapi lebih disebabkan kurangnya waktu untuk belajar. Waktunya banyak disita kegemarannya mencoba bermacam-macam zat warna untuk mewarnai jaringan tubuh yang masih hidup. Dia memiliki cita-cita untuk menemukan sesuatu yang dapat membunuh bibit-bibit penyakit di dalam tubuh manusia tanpa merusak jaringan tubuh. Sebab ia berkeyakinan, bibit penyakit tertentu hanya menyerap zat warna kimia tertentu yang bila bibit penyakit itu menyerap zat kimia tertentu lain, bibit penyakit itu akan mati. Pengobatan dengan zat kimia yang kemudian dikenal sebagai “Kemoterapi” inilah salah satu temuannya. 

Pada tahun 1886 ia bergabung dengan Institute for Infectious Diseases di Berlin. Kemudian setelah menghabiskan dua tahun di Mesir, untuk penyembuhan Tubercolosis, ia bekerjasama dengan Emil Adolf von Behring untuk mengembangkan serum Dipteri. Kerjasama ini mengilhami Ehrlich dalam teorinya yang terkenal dengan Seitenkettentheorie ( teori rantai samping ) pada tahun 1897. Teori ini menerangkan efek dari serum dan memungkinkan pengukuran jumlah antigen. Pada tahun 1896 Ehrlich menjadi Direktur dari Institute of Serum Research and Examination di Steglitz, Berlin. Pada tahun 1899 institut ini dipindah ke Frankfurt, Main dan dikembangkan menjadi Royal Institute of Experimental Therapy. Disini Ehrlich meneliti kemoterapi dan penyakit menular lainnya. Pada tahun 1904, Ehrlich menjadi profesor kehormatan di University of Göttingen. Pada tahun 1906 ia menemukan susunan rumus dari atoxyl, satu campuran kimiawi yang terbukti mampu mengobati penyakit tidur. Selanjutnya ia dan muridnya, Sahachiro Hata, mengembangkan Salvarsan, perawatan efektif melawan Sifilis pada tahun 1909. Penelitian ini mengawali riset-riset lainnya mengenai pengembangan penisilin dan antibiotik lainnya. 

Ia menikah dengan Hedwig Pinkus —yang saat itu usianya masih 19 tahun— pada tahun 1883. Mereka dikaruniai dua orang putri yang diberi nama Stephanie dan Marianne. Ehrlich adalah seorang ilmuwan yang mempersembahkan penemuannya untuk kepentingan umum dan kemanusiaan. Ia tidak mengaitkan penemuannya dengan uang. Maka layaklah ia dianugerahi Hadiah Nobel untuk kedokteran dan fisiologi bersama-sama dengan Ilya Ilyich Mechnikov pada tahun 1908. 
Selain Hadiah Nobel, ia juga menerima penghargaan Tiedemann dari Senckenberg Naturforschende Gesellschaft di Frankfurt, Main pada tahun 1887, Prize of Honour pada International Congress of Medicine ke XV di Lisbon pada tahun 1906, Medali Liebig dari Komunitas Kimia Jerman pada tahun 1911, Cameron Prize of Edinburgh pada 1914. Pada tahun 1897 Pemerintah Prusia menganugerahkannya gelar sebagai Privy Medical Council. Dan pada 1911 ia diangkat sebagai kelompok penasihat yang paling tinggi, Real Privy Council , dengan titel Excellency
Ketika Perang Dunia I pecah pada tahun 1914, ia menjadi sangat tertekan dan saat Natal tahun itu dia terserang stroke. Kesehatannya memburuk sejak saat itu, dan pada 20 Agustus 1915 ia meninggal karena serangan stroke yang kedua kalinya di Bad Homburg. Hidupnya digambarkan dalam film “Magic Bullet”, yang terfokus pada Salvarsan®(arsfenamina), yang digunakannya untuk mengobati penyakit sifilis. 

 

Sumber : Ragam info web. / Tyas SA/ Def@_




Animasi IPTEK

25 03 2009

Pengen tau gima ilmuwan kita menggambarkan beberapa kejadian alam… woww… seru banget tengok ja deh animasi yang dibuat oleh ilmuwan kita… hehe…

klik ja link nya di bawah nee…

Modifikasi Cuaca (hujan buatan)

 

Def@




Khasiat lain LIDAH BUAYA

25 03 2009
   

Lidah Buaya

(Aloe Vera Linn.)

Sinonim :
Aloe barbadensis, Mill. Aloe vulgaris, Lamk.

Familia :
Liliaceae

 

Uraian :
Tumbuhan liar di tempat yang berhawa panas atau ditanam orang di pot dan pekarangan rumah sebagai tanaman hias. Daunnya agak runcing berbentuk taji, tebal, getas, tepinya bergerigi/ berduri kecil, permukaan berbintik-bintik, panjang 15-36 cm, lebar 2-6 cm, bunga bertangkai yang panjangnya 60-90 cm, bunga berwarna kuning kemerahan (jingga), Banyak di Afrika bagian Utara, Hindia Barat. a. Batang Tanaman Aloe Vera berbatang pendek. Batangnya tidak kelihatan karena tertutup oleh daun-daun yang rapat dan sebagian terbenam dalam tanah. Melalui batang ini akan muncul tunas-tunas yang selanjutnya menjadikan anakan. Aloe Vera yang bertangkai panjang juga muncul dari batang melalui celah-celah atau ketiak daun. Batang Aloe Vera juga dapat disetek untuk perbanyakan tanaman. Peremajaan tanaman ini dilakukan dengan memangkas habis daun dan batangnya, kemudian dari sisa tunggul batang ini akan muncul tunas-tunas baru atau anakan. b. Daun Daun tanaman Aloe Vera berbentuk pita dengan helaian yang memanjang. Daunnya berdaging tebal, tidak bertulang, berwarna hijau keabu-abuan, bersifaat sukulen (banyak mengandung air) dan banyak mengandung getah atau lendir (gel) sebagai bahan baku obat. Tanaman lidah buaya tahan terhadap kekeringan karena di dalam daun banyak tersimpan cadangan air yang dapat dimanfaatkan pada waktu kekurangan air. Bentuk daunnya menyerupai pedang dengan ujung meruncing, permukaan daun dilapisi lilin, dengan duri lemas dipinggirnya. Panjang daun dapat mencapai 50 - 75 cm, dengan berat 0,5 kg - 1 kg, daun melingkar rapat di sekeliling batang bersaf-saf. c. Bunga Bunga Aloe Vera berwarna kuning atau kemerahan berupa pipa yang mengumpul, keluar dari ketiak daun. Bunga berukuran kecil, tersusun dalam rangkaian berbentuk tandan, dan panjangnya bisa mencapai 1 meter. Bunga biasanya muncul bila ditanam di pegunungan. d. Akar Akar tanaman Aloe Vera berupa akar serabut yang pendek dan berada di permukaan tanah. Panjang akar berkisar antara 50 - 100 cm. Untuk pertumbuhannya tanaman menghendaki tanah yang subur dan gembur di bagian atasnya.

 

BAGIAN YANG DIPAKAI:

Daun, bunga, akar, pemakaian segar,

KEGUNAAN:

1. Sakit kepala, pusing.

2. Sembelit (Constipation).

3. Kejang pada anak, kurang gizi (Malnutrition).

4. Batuk rejan (Pertussis), muntah darah.

5. Kencing manis (DM), wasir.

6. Peluruh. haid.

7. Penyubur rambut.

PEMAKAIAN:

Daun.. 10 - 15 gram, bila berbentuk pil: 1,5 - 3 gram. Atau berupa bubuk (tepung) untuk pemakaian topikal. PEMAKAIAN LUAR: Daun dipakai untuk koreng, eczema, bisul, terbakar, tersiram air panas, sakit kepala (sebagai pilis), caries dentis (gigi berlubang), penyubur rambut.

a. Penyubur rambut: Daun lidah buaya segar secukupnya dibelah, diambil bagian dalam yang rupanya seperti agar-agar, digosokkan ke kulit kepala sesudah mandi sore, kemudian dibungkus dengan kain, keesokan harinya rambut dicuci. Dipakai setiap hari selama 3 bulan untuk mencapai hasil yang memuaskan.

b. Luka terbakar dan tersiram air panas (yang ringan): Daun dicuci bersih, ambil bagian dalamnya, tempelkan pada bagian tubuh yang terkena api/air panas.

c. Bisul: Daun dilumatkan ditambah sedikit garam, tempelkan pada bisulnya.

CARA PEMAKAIAN:

1. Kencing manis (DM): 1 batang lidah buaya dicuci bersih, dibuat durinya, dipotong-potong seperlunya direbus dengan 3 galas air sampai menjadi 1 1/2 galas Diminum sehari 3 x 1/2 gelas, sehabis makan.

2. Batuk rejan: Daun sekitar 15 - 18 cm, direbus kemudian ditambah gula, minum.

3. Syphilis: Bunga ditambah daging: Direbus, minum.

4. Cacingan, susah buang air kecil: 15 - 30 gram akar kering lidah buaya direbus, minum.

5. Luka terpukul, luka dalam (muntah jarah): 10 - 15 gram bunga kering lidah buaya direbus, minum atau bunga ditim dengan arak putih, untuk pemakaian luar.

6. Kencing darah: 15 gram daun lidah buaya diperas, ditambah 30 gram gula, ditambah air beras secukupnya, minum.

7. Wasir: 1/2 batang daun lidah buaya dihilangkan duri-durinya, cuci bersih lalu diparut. Tambahkan 1/2 cangkir air matang dan 2 sendok makan madu, aduk, saring. Minum sehari 3 kali.

8. Sembelit: 1/2 batang daun lidah buaya dicuci dan dibuang kulit dan durinya, isinya dicincang, lalu diseduh dengan 1/2 cangkir air panas dan tambahkan 1 sendok makan madu, hangat-hangat dimakan, sehari 2 kali.

PERHATIAN : Dilarang pakai untuk wanita hamil, gangguan pada sistem pencernaan dan diare. 

 

Def@_